Mahmudin Ashar contact
Chief author, Open Source enthusiast, Web Programmer, and UI/UX Designer.
Thursday, May 25, 2017 at 4:17:00 PM

Beberapa saat yang lalu, kita telah membahas beberapa model penggunaan teknologi informasi pada hari pemilihan atau dikenal dengan istilahe-voting, pada kesempatan kali ini kita ingin membahas secara menyeluruh beberapa model penggunaan teknologi informasi(ICT) yang mungkin diterapkan pada sebuah penyelenggaraan pemilu di setiap tahapanny, serta contoh khasus penggunaannya di setiap negara.
 “In a republic, elections are a matter for the entire people and a joint concern of all citizens. Consequently, the monitoring of the election procedure must also be a matter for and a task of the citizen. Each citizen must be able to comprehend and verify the central steps in the elections.” - When electronic voting machines are deployed, it must be possible for the citizen to check the essential steps in the election act and in the ascertainment of the results reliably and without special expert knowledge.

Apa alasan Penggunaan ICT di dalam Pemilu ?

Sebelum kita membahas lebih jauh, berikut setidaknya 7 alasan mengapa diperlukan campurtangan mesin/penggunaan ICT dalam pemilu. 

Transparency

Sebagian negara menerapkan ICT dengan maksud untuk meningkatkan transparansi penyelenggaraan pemilu, sebagian juga berpendapat bahwa tidak harus semua aspek dari pemilu harus diketahui oleh umum misal dalam hal voting.

Efficiency

Penggunaan ICT adalah murah, e-voting = penghematan apakah anda setuju ?  kesimpulan kami, klo model pemilu dalam sebuah negara tidak berubah-ubah (misal : jumlah calon, cara memberikan tanda, dll) dan ICT bisa digunakan multi years, dan penyimpanan (warehousing) sudah baik dan memadai mungkin benar bahawa ICT dapat menghemat pengeluaran negara, tidak terlepas bahwa investasi tetap mahal.

Inclusiveness

Penggunaan ICT dalam setiap tahapan pemilu setidaknya dapat menyelesaikan beberapa permasalah dalam pemilu secara bersamaan, sebagai contoh penggunaan e-voting atau alat penghitung suara di TPS setidaknya harus dapat mempersingkat waktu penghitungan serta meyederhanakan pendistribusian hasil ke tingkat pusat (kpud). 

Voter Convenience 

Tujuan utama dari setiap inovasi adalah membuat pemilih (customer) merasa nyaman, penggunaan ICT namun terkesan mempersulit sebagian atau seluruh pemilih atau stakeholder lain seperti partai, sebaiknya dihindari atau dievaluasi.

Accuracy

Penggunaan ICT dibidang pemilu akan meningkatan ke akuratan hasil serta akuntabilitas, meniadakan atau memperkecil interaksi antar manusia didalam sistem dapat menurunkan tingkat penyelewengan data.  

Multilingual

Hal ini sangat cocok sekali dengan kondisi Indonesia yang memiliki banyak sekali bahasa daerah, ICT dapat menyelesaikan permasalah 'roaming' bahasa, dengan penggunaan teknologi informasi pemilih (stakeholder) yang kurang nyaman menggunakan bahasa indonesia(standard) dapat mengganti dengan bahawa lain dimana mereka merasa nyaman terhadapnya. contoh khasus : WNA.

di bagian mana ICT diperlukan dalam Pemilu ? 

Pemilu adalah serangkaian tahapan yang cukup banyak dan panjang, untuk mengadakan pemilu legislatif misalnya, tahapan dimulai 2 tahun sebelum pelaksanaan pemilu itu sendiri (untuk Pileg 2019 verifikasi partai politik peserta pemilu 2019 akan dilaksanakan sekitar agustus 2017). Berkaitan dengan penggunaan ICT didalam Pemilu, menurut hompimpers! dimana sebaiknya ICT itu digunakan atau ditekankan ?  *berikan jawaban anda di komenter :)

screenshot of presentation Mr Michael Hamasaki from A-WEB
Sebagai catatan, Komisi Pemilihan Umum RI telah menerapkan beberapa penggunaan ICT terutama pada bagian counting/tabulation dimana hasilnya sebagian kita sudah sangat familiar. Berikut adalah beberapa negara yang telah diklasifikasikan menurut tingkat penggunaan ICT di hari pemungutan suara (e-voting dan counting)

Level penggunaan ICT di beberapa negara

Internet Voting

Salah satu negara yang melakukan inovasi terdepan dalam bidang pemilu adalah estonia, bukan lagi menggunakan embeded divice di TPS namun bahkan bisa dilakukan melalui PC kita dirumah dan di kantor melalui Internet, Hmm.. canggih bukan, mungkin kah diimplementasikan di Indonesia ? kami rasa tidak untuk saat ini :). Sedikit bercerita mengenai i-voting yang ada di estonia, dalam pemilu terakhir estonia memiliki jumlah pemilih sekitar 899.793 dengan tingkat partisipasi 64.2% (lebih rendah dari tingkat partisipasi di pileg tahun 2014), pemilih harus mendownload aplikasi melalui website KPU estonia, kemudian memverifikasi ID melalui HP atau email, setelah mendapatkan ID pemilih maka pemilih dapat memberikan suaranya melalui website resmi KPU estonia, Pemerintah estonia meng-klaim bahwa semua data yang dikirim ke server KPU estonia telah di enkripsi dan aman dari gangguan peretas, dan kunci (enkripsi) hanya dapat dibuka oleh KPU estonia. Berikut cupilikan internet voting yang dilakukan oleh perdana menteri estonia Taavi Rõivas.

 
 video of Taavi Rõivas memperagakan betapa mudahnya pemilu di estonia

Tren Penggunaan ICT pada pemilu amerika

Berbicara mengenai implementasi ICT mari kita lihat tren yang terjadi pada pemilu di Amerika, sebagai gambaran, Amerika saat ini menggunakan beberapa model pemberiaan suara ada yang menggunakan e-voting, ada yang menggunaka punch mechines (seperti mesin pelobang kertas), ada juga yang menggungkan kertas dengan memberikan tanda, hampir disetiap negara bagian memiliki aturan sendiri dan aturan tersebut sangat mempengaruhi model apa yang bisa implementasikan di negara bagian tersebut.

grafik tren penggunaan berbagai metode memberikan pilihan

Grafik diatas secara umum menginformasikan kita bahwa pilihan terbanyak saat ini di Amerika adalah menggunakan kertas dengan model penghitungan menggunakan scanner, dan DRE atau e-voting menempati urutan ke 2, jelas bahwa e-voting bukan merupakan pilihan strategis yang dipilih pemerintah Amerika saat ini, secara lengkap tentang pemilu amerika dapat anda cekalamat ini.

Migrasi menuju model ICT didalam tahapan pemilu.

Kapan sebaiknya model ICT di terapkan dalam tahapan kepemiluan kita ? pertanyaan ini akan menghasilkan jawaban yang bermacam-macam tergantung kepada siapa kita bertanya. Namun, apabila hal berikut sudah dapat dijawab oleh stakeholder kita, itulah saat yang tepat ICT diimplementasi di pemilu kita.
  1. Pada saat, semua masalah telah dipetakan dan diidentifiaksi.
  2. Pada saat, ICT benar-benar diharapkan dapat menyelesaikan masalah.
  3. Pada saat, semua stakeholder(KPU, DPR, Pemerintah, Masyarakat) telah sepakat, mungkin perlu dilakukan uji publik.
  4. Pada saat, telah dilakukan kajian fisik dan finansial.
Persiapan sebelum implementasi ICT dalam pemilu
  • Model seperti apa yang akan dipakai, dan tahap mana yang akan dipakai. apakah akan menggunakan model full atau setengah mesin dan setengah manusia.
  • Lakukan sebuah uji petik.
  • Lakukan secara bersama-sama diseluruh wilayah dengan tipikal geografi dan latar belakan masyarakat yang berbeda.
  • Tentukan mekanisme backup, apabila memungkinkan secara manual, pada saat terjadi bencana
Note : This material is path of lecturer in A-WEB Election Management Capacity Building Program.