Beberapa saat yang lalu, kita telah membahas beberapa model penggunaan teknologi informasi pada hari pemilihan atau dikenal dengan istilahe-voting, pada kesempatan kali ini kita ingin membahas secara menyeluruh beberapa model penggunaan teknologi informasi(ICT) yang mungkin diterapkan pada sebuah penyelenggaraan pemilu di setiap tahapanny, serta contoh khasus penggunaannya di setiap negara.
 “In a republic, elections are a matter for the entire people and a joint concern of all citizens. Consequently, the monitoring of the election procedure must also be a matter for and a task of the citizen. Each citizen must be able to comprehend and verify the central steps in the elections.” - When electronic voting machines are deployed, it must be possible for the citizen to check the essential steps in the election act and in the ascertainment of the results reliably and without special expert knowledge.

Korea Selatan melaksanakan Pemilu Presiden ke-19, dimana candidat Moon Jae-in (kandidat nomor urut 1) sebagai presiden terpilih, pelajaran apa yang dapat kita petik dari pelaksanaan pesta demokrasi di Korea Selatan dan hal apa yang mungkin dapat kita terapkan di indonesia ?


Seoul International Forum on Elections (SIFE) merupakan sebuah wadah komunikasi antar EMB (penyelenggara pemilu) di seluruh dunia untuk bertukar pengalaman, informasi, serta berinteraksi dan saling menimba ilmu dari KPU , (KPU = EMB) negara lain, Seoul International Forum on Elections (SIFE) sendiri diselenggarakan hampir setiap tahun oleh NEC (National Election Commission atau KPU Korea Selatan) dan AWEB (The Association of World Election Bodies) dan di tahun 2017 ini diselenggarakan di Hotel Mayfield Gangseo-gu, Seoul, Korea Selatan.

Disetiap tahun KPU Republik Indonesia selaku penyelenggara pemilihan umum di Indonesia selalu mengirimkan wakilnya diacara tersebut, dimana tahun ini diwakili oleh Pramono U Tanthowi selaku komisioner KPU RI terpilih periode 2017-2022. Penyelenggaraan Seoul International Forum on Elections, 2017 dibagi menjadi 3 sesi, setiap sesi diisi oleh 3 narasumber diantaranya terdapat komisioner EMB/KPU dari negara sahabat, komisioner yang mendapatkan kesempatan kali ini adalah Philipina, Korea Selatan, dan Georgia.

Surat suara (Ballot Papers) merupakan sebuah selebaran kertas yang digunakan untuk menyalurkan pilihan (memberikan tanda kepada calon dari pemilih) dalam pemilu di indoonesia. Dalam surat suara tertulis nama partai (pada pileg), dan nama calon (pilpres, pilbup, dan pilgub) bahkan untuk pemilu presiden, gubernur dan bupati/walikota dilengkapi juga dengan foto calon. Proses pemberian suara dalam pemilu diindonesia dilakukan dengan cara mencoblos dengan alat coblos (paku) setelah sebelumnya dengan cara mencontreng. Di Akhir pemilihan surat ini nantinya akan dikeluarkan dari kotak suara, kemudian dihitung dengan disaksikan pemilih, panwas, dan saksi calon, kemudian hasinya diumumkan kepada masyarakat.

Form C1 7 segment merupakan trobosan yang dilakukan KPU untuk mempercepat proses perekapan suara (e-recap), 7 segment merupakan metode penulisan 'angka' yang mengikuti format digital, 7 segement sebetulnya adalah cara yang dipakai oleh perangkat elektronik (misal : jam digital) untuk menunjukan informasi numerik. Dalam metode rekapitulasi menggunakan model 7 segment, seorang petugas KPPS mendapatkan blangko C1 berbeda dari blangko C1 pada umumnya, blangko C1 pada model 7 segment dilengkapi dengan gambar transparan pola 7 segment dimana angka yang akan dituliskan oleh KPPS harus mengikuti pola dan kolom yang disediakan. Tujuan penggunaan model 7 segment ini adalah untuk menyeragamkan tulisan yang ada dalam C1 serta mempercepat proses entry data TPS ditingkat kabupaten (meniadakan input manual, semua input dilakukan otomatis melalui aplikasi).

Teknologi dan informasi  (IT) saat ini sudah memasuki semua ranah kehidupan manusia baik privat maupun publik. Kemajuan teknologi dan informasi terbukti telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Teknologi dan informasi membuat manusia seolah tidak memiliki batas territorial dan waktu, saling terhubung satu sama lain. Sehingga sebuah informasi atau kejadian di suatu tempat yang sangat jauh dari sisi jarak secara cepat langsung diketahui oleh seluruh manusia di dunia. Indonesia termasuk negara yang mengikuti perkembangan IT di dunia.

Pemungutan suara secara elektronik (e-voting) adalah kegiatan pemungutan suara yang memanfaatkan perangkat elektronik baik hanya sebatas alat bantu maupun secara penuh menangani mekanisme pemungutan suara. Dalam banyak kasus, teknologi ini digabungkan dengan teknologi penghitungan suara elektronik. Penggunaan mesin e-voting secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

1. Sistem e-voting berbasis kertas

Merupakan sistem e-voting di mana kegiatan pencoblosan dilakukan dengan cara memberi tanda pada kertas suara dengan menggunakan tangan, sedangkan penghitungan surat suara dilakukan secara elektronik berdasarkan tanda tersebut. Termasuk dalam kelompok ini adalah:
  • Puch Card Voting
Ide pemungutan suara dengan cara melubangi kartu sudah dimulai sejak tahun 1890an, namun kesuksesan mesin ini baru dimulai pada tahun 1965 ketika Joseph P. Harris memperkenalkan Votomatic puch-card systems.  Sistem ini memanfaatkan kartu dan sebuah mesin khusus untuk merekan jumlah suara.Pemilih membuat lubang pada kartu (dengan alat pelubang khusus) tepat di samping kandidat yang mereka pilih.Selanjutnya kartu tersebut dimasukkan ke dalam kotak suara atau langsung dimasukkan ke komputer penghitungan suara.